Pada tahun 9 mei 1981 lahirlah seorang bayi laki-laki bernama Barraq barudin. Ayah yang menamaiku seperti itu. “Dalam bahasa Arab,Barraq artinya adalah berkiluan,” papar ibuku. Dibelahan dunia lain, orang boleh mengatakan apalah arti sebuah nama, tapi menurut adat istiadat daerahku nama sangatlah penting. Nama berurusan dengan agama dan dianggap sumber aura. Din itu buktinya, asalnya dari Dienul islam yang berarti agama Islam. Jika kelakuan anaknya tak beres, pasti namanya yang pertama diselidik. Kebijakan purba itu dianut oleh ayahku.
Ternyata, harapan orang tuaku diatas nama agung namaku itu hancur berserakan. Saat aku belum sekolah, aku bersekongkol dengan adiku yang kedua yang juga laki-laki yang membuat ibuku kapok bersalin, menyembunyikan kertas naskah khatib yang membuat ia menjadi gelagapn bagaikan orang yang kebakaran jenggot diatas mimbar. Kejadian itu menjadi memorandum pertama kejahatanku, seumpama catatan debut Qabil dalam sejarah kriminalitas umat.
Kalau tiba-tiba bedug di masjid bertalu-talu bukan jam sholat pasti aku yang dicari-carinya, karena memang akulah pelakunya. Bulan puasa, dengan sengaja aku dan teman-temanku melubangi buku-buku batangan bambu dengan parang ayahku, kuisi air dan karbit, lalu kuarahkan kepintu mesjid saat seisi kampung sedang tarawih. Dentuman gas karbit berdentum keras laksana meriamnya Nagabonar saat sumbunya aku sulut. Membuat kocar-kacir semua jamaah yang sedang tarawih.
“Ooiii bocah edaaaaannn!!” teriak wak Dul sang penjaga masjid. Aku ditangkap. Malamnya aku disidang ayahku. “oh ini yang katanya sang juru pendamai menurut arti namamu itu!? Bikin malu saja!”
Wajahnya merah menahan marah. Tapi Ia sadar aku menuruni watak keras kepalanya, karena setiap jengkal tubuhku berasal dari setiap tubuhnya. Ibuku yang penyabar hanya diam menatapku dalam keputus asaannya. Dalam keadaan seperti ini biasanya ibuku hanya menaikanku ketempat tidur dan menyuruhku langsung tidur.
Kejadian dentuman meriam di masjid itu menjadi bukti bahwa namaku terlalu berat untuku. Ayah memutuskan untuk menggantinya. Demi menemukan nama baru, Ayah rajin berunding dengan wak Dul serta pak RT yang dianggap sudah seperti keluarganya sendiri. Bahkan dangan perawat puskesmas, bidan, pelayan restoran sampai polisi pamong praja pun diajak diskusi oleh ayahku. Pagi ini Ayah sedang berbincang dengan orang yang berpakaian serba putih,ternyata Ia adalah pak H.Rauf guru besarnya wak Dul yang konon katanya pernah kuliah di Al-Azhar Mesir. Pulang kerumah, Ayah berseri-seri sekali wajahnya. “Aku telah menemukan nama baru untuk anak kita itu, Bu!”
“Kabar gembira!” jawab Ibu.
“Dengan nama ini mudah-mudahan anak kita menjadi anak yang teladan, Bu!”
Saat itu siang begitu terik tapi aku sedang dihukum mencuci WC karena tanpa alasan yang jelas aku telah mengibarkan bendera merah putih setengah tiang. Aku marah dalam hati mendengar kabar itu, bagaimana kalau aku tak mau menggunakan nama itu.
“ Hmm..bagus sekali ya tak seorang pun bertanya pendapatku tentang nama itu”
“Apakah gerangan nama baru untuk si Barraq ini Ayah” kata ibuku.
“Namanya adalah Parto! Kata orang-orang, penduduk jawa lebih dulu maju, maka klo ingin maju pakailah nama seperti orang Jawa!” jawab Ayahku.
“waduh tambah kacau nih pikiran ayahku, cari nama anak sendiri kok ngikutin kata orang-orang sih!” omelku dalam hati.
Sayang beribu sayang anak yang namanya seperti orang jawa itu malah semakin menjadi biang kerok dikampungku. Suatu sore aku menjadi pimpinan rombongan anak-anak kampungku menjarah semua makanan yang disumbangkan ke masjid jika bulan Ramadhan. “Boss Parto,” begitu sapaan teman-temanku semua. Nakalku semakin menjadi, Aku tersesat dalam ide-ide gilaku sendiri. Dengan sebungkus coklat cap Ayam Jago aku membujuk salah satu temanku agar menyetel kaset dangdut memakai pengeras suara masjid. Suara penyanyi dangdut melolong-lolong seantero kampung, membuat wak Dul dan pak RT murka.
Aku dan Ayahku kena sidang oleh ketua RT di kampungku.
“Parto sudah tak bisa diatur!! Dia tak boleh lagi berada di sekitar masjid ini!” wak Dul emosi. Semua warga yang mengelilingi kami menagguk-angguk tanda setuju.
Wajah Ayahku tidak lagi merah tetapi menjadi biru karena menahan malu. Sesampainya di rumah Ia menatapku tajam, tatapan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Naluriku berkata Ayah akan marah besar dan mengambil tindakan tegas yang ekstrim. Aku terdiam ketakutan.
“Paarrrtooo..!! apa lagi yang akan kau perbuat!!?” Ayahku berteriak.
Tatapan mata Ayah semakin tajam. Aku tak pernah dikasari oleh Ayahku sebelumnya, bahkan menaikan nada suaranya pun belum pernah. Tapi kali ini mungkin memang sudah keterlaluan sekali pebuatanku ini. Ayah berteriak sangat keras sambil menggebrak meja makan di ruang tengah rumahku. Aku miris membayangkan hukuman berat apa yang akan di berikan oleh Ayahku nanti.
Suasana hening. “Bagaimana Yah? Hukuman apa yang yang akan Ayah berikan agar si Parto ini jera, Yah?” terdengar suara lembut ibu di belakangku.
Ayah terdiam sejenak karena Ia harus memutuskan suatu keputusan kejamnya kepadaku.
Dengan suaranya yang berat dan kebapak-an beliau berkata .
“Akan kuganti lagi namanya….”
Adzan magrib mengalir di udara kampungku yang pengap karena sudah satu bulan ini hujan tidak kunjung turun. Orang-orang dikampungku berduyun-duyun menuju masjid, menuju kemenangan.
Ayah kembali pusing memikirkan namaku hingga tak terasa kopiah yang yang dipakainya sudah miring kebelakang kepalanya.
“baiklah nak, Ayah menyerah! Sekarang silahkan pilih nama yang kamu sukai.” Kata ayahku sambil menghisap rokok kreteknya dalam-dalam.
Saat itu aku sedang menonton film robot yang tokohnya bernama sharivan.
“Bagaimana kalo sharivan saja yah!” ucapku dengan wajah polos yang tak berfikir panjang. Telinga ibu berdiri mendengarnya.
“Aih..nama apa itu?? Itu bukan nama orang islam nak!”
Tapi Ayahku berpendapat lain.
“sudahlah Bu biarkan saja! Mungkin kalo nama yang sesuai dengan yang Dia inginkan Dia akan berubah, tak ada salah nya dicoba!”
Tapi Ibu tak terima. “Tapi tak ada orang islam dengan nama seperti itu!”
Ayahku terdiam sejenak.”Baiklah bagaimana kalo nama anak kita ini adalah Sharivan Ba’asyir? Kan belakangnya tetap ada nama islam nya Bu!” Ucap Ayahku sambil kembali menghisap rokoknya.
Aku yang lebih berhak untuk memutuskan namaku sendri, langsung setuju dengan pendapat Ayahku ini.
“ya Bu benar kata Ayah yang penting aku senang dengan nama itu..”
Ibu berbalik meninggalkan kami, marah, tapi aneh dia tersenyum.
Mulai hari ini aku mempunyai nama baru yang kubuat atas keinginanku sendiri.
Akhirnya aku menarik kesimpulanku sendiri, ternyata sifat orang tak berhubungan dengan nama yang disandangnya, bukan pula bagaimana ia menginginkan orang hormat kepadanya, tapi lebih pada seberapa besar ia menaruh hormat kepada dirinya sendiri.
2 Merantau
Dengan diantar kedua orang tua dan kedua adiku pagi ini aku sudah berada di Bandara Supadio Pontianak. Hari ini tanggal 27 November 1997 saat nya untuk berpisah dengan kedua orang tuaku karena aku harus melanjutkan sekolahku di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung.
Ternyata benar setelah aku menyandang nama pilihanku sendiri tempo dulu, aku menjadi anak yang soleh dan menuruti semua nasehat orang tuaku. Hingga aku terdaftar di Fakultas Ekonomi Universitas Pajajaran Bandung ini.
“van jaga diri baik-baik ya disana, dan jangan lah kamu pernah meninggalkan sholat mu ya nak!” Ucap Ibuku sambil mencucurkan air mata nya. Aku pun mengangguk pelan sekali karena sebenarnya aku pun belum siap untuk berpisah dengan mereka.
“Ayah bangga seorang kuli pabrik seperti ayah bisa punya anak sarjana kelak.” Ucap Ayahku sambil memeluk aku dan Ibuku dari belakang.
“Ayah dan Ibu gak perlu khawatir! Aku berjanji aku tak kan pulang sebelum aku berhasil menjadi orang!” Ucapku dengan penuh percaya diri.
Sesampainya di Bandara Soekarno Hatta aku mempelajari lagi lampiran surat pengumuman beasiswaku ini. Berlapis-lapis. Semuanya ada disini, jalur detail perjalanan,penjemput, bahkan telah disiapkan alamat e-mail internet,lengkap dengan user name dan password untuk akses data warehouse universitas.
Kulihat nama penjemputku adalah Ibu Trisnawati. Dari cara menulis namanya, aku mendapat kesan pastilah dia ini seorang ibu-ibu gemuk yang sudah beranak dua. Pengurus hal remeh temeh dibagian administrasi.
Masih dalam hiruk pikuk para penumpang lainya aku celingukan mencari ibu gemuk dalam bayanganku ini. Pasti ia berdiri di sana, di antara para penjemput sambil memegang karton yang tertulis atas namaku.
“hai!!” Ia berlari-lari kecil menuju aku, aku terkejut, menoleh kiri kanan,? siapakah dia? Ia pasti salah mengenali orang pikirku.
“Hai!!” Tapi memang aku yang dipanggilnya. Aneh aku terdiam, dan ia pun berhenti di depanku sambil megap-megap.
“mas Sharivan kan?” katanya sambil membungkuk, keringatnya bersimbah, dadanya kembang kempis. Lalu ia tegak lagi,bertelakan pinggang sambil mengatur napas. Aku mematung kebingungan. Siapakah gadis berandal ini?
Ia lumaya tinggi untuk ukuran wanita, 170 senti meter mungkin tingginya.
Atletis, padat berisi. Tubuhnya dibangun dengan kerangka yang sempurna.
Ia menggunakan tank top. Perutnya kelihatan dan pasti ia sering shit up.
Rambutnya pendek bergaya rambut Demi More di film Ghost.
Aku terkesiap. Ia gadis muda yang sangat cantik, aku seakan-akan menatap seorang model majalah Vogue.
Apa yang di inginkan wanita cantik ini? Ia mengatur napasnya dan aku terbius pesonanya. “Mas Sharivan Ba’asyir kan, Salah satu pemegang beasiswa penuh di fakultas Ekonomi Unpad?” Tanya nya akrab. Tak menunggu jawaban ia mengulurkan tanganya. “Saya Ade…” Ia menyalamiku. Bola matanya kecoklatan terkena sinar mentari di siang yang panas ini.
“Ade Trisnawati.” Ya Allah, inilah Ibu Trisnawati. Yang kusangka ibu-ibu gemuk beranak dua petugas administrasi itu. Sekarang terus terang aku gugup karena ia cantik tak kepalang tanggung.
“Saya mengenali kamu dari foto saja…” Ia tersenyum senang.
“Sa..saya Ivan.” Aku pun memperkenalkan diri sambil terbata-bata karena masih tak percaya dengan apa yang aku lihat. Ia mengambil koperku yang sudah usang itu. Koper berat usang itu ringan saja ditangannya.
“Ikut aku!” kata nya sambil membalikan badannya. Aku membuntutinya dari belakang menuju sebuah mobil van berwarna hitam. Kaosku sudah basah karena keringatku terus bercucuran. “jangan khawatir teman, kita segera berangkat, nanti dalam mobil dingin lagi kok.” Katanya. Aku takjub dengan gadis ini tak sedikitpun ia kelelahan dengan udara yang pengap ini. Dari Bandara Soekarno Hatta kami langsung ke Bandung melewati
melewati Bogor dan Puncak, karena tol Cipularang belum jadi saat itu.
Dalam sekejap aku akrab dengan Ade. Ia tak berhenti bicara dan aku tak berkedip menatap kecantikannya. Seperti aku ia juga menerima beasiswa penuh di Unpad. Ia mahasisiwi Unpad jurusan fakultas Hukum. Ternyata ia bercita-cita menjadi seorang pengacara, karena sudah geram melihat keadilan di negeri ini yang bisa di perjual belikan oleh orang-orang berkantung tebal.
“Aku lebih baik menjadi orang asing bagi semua orang, dari pada harus hidup bersama orang-orang yang penuh dengan kemunafikan dan nafsu duniawi saja…” kata nya dengan mata coklatnya yang menyala-nyala.
Belum pernah aku mendengar pandangan seperti itu, dari seorang gadis cantik yang masih sangat muda belia. Semua pandangannya mengandung kecerdasan dan kejujuran tingkat tinggi.
Mobil van hitam meluncur melintasi lembah-lembah dan perkebunan teh di daerah Puncak melaju melewati Cipanas,Cianjur,dan pegunungan kapur di daerah Padalarang.Tanpa sadar kami pun sudah memasuki jalan tol yang menghubungkan antara padalarang dan kota Bandung. Dari seluruh penduduk Bandung hampir semuanya menggunakan bahasa sunda.
Kami tiba di depan pagar besi sebuah rumah tingkat tiga yang cukup besar berdesain kaku bergaya Belanda. “oke, sampai di sini ya van! Aku yakin kita berjumpa lagi di kampus…” Kamipun bersalaman. “senang sekali bisa kenal dengan kamu, take care ya..” ucapku. Berat sekali untuk berpisah dengan Ade. Ia telah menjadi sahabat yang baik dalam perjalanku tadi. Sayang sekali ia harus segera pulang karena ada tugas dari dosennya yang harus ia selesaikan.
3.Paris Van Java
Aku memasuki halaman dan terdiam di depan pintu yang terbuat dari kayu jati zaman Belanda. Diketuk berkali-kali tak ada respon, kuputar-putar gagangnya terkunci, didorong-dorong macet. Tak ada bel. Yang kutemukan hanya sederet nomor kamar dan nama penghuninya yang tertempel di dinding samping pintu masuk rumah tersebut. Kemudian kumencoba mencari-cari bel lagi, akhirnya kutemukan tombol bel tersebut di balik pintu pagar besi berwarna coklat yang tadi ku lewati. Aku memencet tombol bel tersebut.
“Ding-dong”..bel berdering. Tiba-tiba keluarlah seorang laki-laki berparas garang dan berkumis tebal yang hampir menutupi sebagian wajahnya.
“ Bade kasaha jang?” Sedikitpun tak kupahami ucapannya.
Pasti bahasa Sunda. “Apakah benar pak, ini mess nya mahasiswa Unpad?”
Ucapku sambil melangkah mendekatinya. “ya bener jang, ada perlu apa ya?” ucap si bapak dengan logat sunda nya yang kental.
“Saya mahasiwa peraih beasiswa yang berasal dari Pontianak pak!”
“Oh saya sudah berulang kali untuk mengonfirmasi kedatanganmu ke pihak kampus, tapi belum ada jawaban jang! Memang ada kamar kosong, tapi tetap saja saya harus dapat konfirmasi dulu dari pihak kampus.” Jawabnya sambil memegangi kumisnya yang tebal.
“Ja..jadi maksud bapak saya belum bisa langsung tinggal disini sampai ada konfirmasi gitu pak?” Tanyaku sambil sedikit bergetar karena menahan lapar.
“ Ya! Tunggu sampai besok saja, kamu hubungi pak Dedi bagian administrasi. Baru kamu kesini lagi kalau semua administrasi sudah beres.” Ucap pak kumis sambil membalikan badannya hendak masuk kembali. Sial!! Ingin rasanya ku tampar muka pak kumis itu karena sikapnya yang tidak sopan. Tapi aku ingat kalau memang aku akan tinggal disini secara gratisan. Ya memang beginilah kebanyakan pelayanan gratisan di negeri ini.
“Brakk”..pintu rumah pun tertutup kembali.
Perutku naik menyundul-nyundul ulu hatiku, karena menahan rasa lapar sedari tadi. Betapa kerasnya kehidupan di kota besar ini. Aku meninggalkan rumah yang tak bersahabat itu, terseok menarik koper berat usangku, tak tentu arah yang kutuju, yang ada dalam pikiran hanya bagaimana menyelamatkan diri dari sengatan udara dingin di kota Paris Van Java ini.
Malam mulai tiba, tak seorang pun tampak keluar rumah. Aku tak tahu kalau situasi gawat akan datang malam ini. Suhu akan bertambah dingin dan hujan akan segera tiba. Aku tak tahu harus kemana. Di ujung jalan aku menemukan bangku halte bis. Aku duduk disitu. Hujan mulai turun dengan derasnya. Sunyi, mencekam. Desis angin berubah menjadi seperti mata pisau, menghujam tubuhku yang lapar dan kedinginan. Seumur hidup dijerang suhu khatulistiwa, kini aku harus mengahadapi suhu yang sedingin ini.
Malam merambat. Tak sadar aku pun tertidur di bawah halte bis tersebut.
Hari sudah pagi. Aku pun terbangun di kejutkan oleh bunyi klakson mobil yang mulai berlalu lalang. Dari kejauhan aku melihat seorang bapak tua yang sedang mendorong gerobak buburnya. “mang bubur!!” aku pun memanggilnya.
“satu mang, jangan pakai sambal” ucapku. “muhun cep.” Jawab si mang yang lagi-lagi memakai bahasa sunda.
Kusantap bubur ayam itu dengan cepat karena memang aku sudah sangat kelaparan. Mmm..badanku langsung terasa hangat kembali setelah di isi semangkuk bubur hangat. “ berapa mang?” tanyaku sambil mengeluarkan dompet dari kantong celanaku yang terkena bercak-bercak lumpur sisa hujan semalam. “tilu rebu weh cep.” Jawab si mang sambil mencuci mangkuk bekas aku makan. “ wah berapa tu mang? Maaf saya anak rantau gak ngerti bahasa sunda.” Ucapku. “ Oh..punten atuh cep. Maksud saya tiga rebu.” Jawab si mang sambil siap-siap mengeluarkan uang untuk kembalian.
Aku pun menyodorkan selembar uang lima ribuan.
“Mang kalau mau ke Dipatiukur naik angkot yang mana ya?” Tanya ku kepada si mang. “Oh..mau ke Unpad ya cep, naik angkot yang warna putih kuning saja cep, nanti bilang saja turun di unpad ke supirnya.” Jawab si mang sambil menyodorkan dua lembar uang seribuan. “Cuman sekali naik aja mang?”
“ya sekali aja cep, gak begitu jauh kok dari sini. Mangga ah cep mau keliling lagi.” Jawab si mang sambil beranjak pergi. “oh iya mang, makasih.” Ucapku sambil celingukan mencari-cari angkot yang si mang sebutkan tadi.
Sesampainya aku di jalan Dipatiukur angkot pun berhenti tepat di depan sebuah gedung yang berhalaman cukup luas. “Ini cep gedung unpadnya!” terdengar suara dari balik setir angkot. Aku pun turun dan bergegas membayar ongkos angkot yang tadi kunaiki. Di halaman gedung itu berseliweran anak-anak muda yang berpakaian serba gaul. Aku yakin mereka adalah anak-anak mahasiswa dan mahasisiwi Unpad. “Memang Bandung benar-benar kota fashion”. Ucapku dalam hati.
Ternyata aku datang pada saat yang keliru, karena pak Dedi sedang diprotes Ade lewat telepon. Rupanya tadi malam Ade menelpon ke pak Ujang alias pak kumis yang mengusirku semalam, untuk menanyakan keadaanku. Mengetahui perlakuan pak Ujang, Ade menyemprot pak kumis habis-habisan. Pak Dedi juga marah dan celakanya, baru saja ia menutup telepon, masuklah tiga orang pria. Tanpa basa-basi , mereka langsung mendebat pak Dedi. Salah seorang pria tersebut melontarkan kata bernada tinggi. Mereka beradu pendapat. Debat memanas, akhirnya melalui sebuah teriakan marah pak Dedi menyuruh mereka keluar. “Nanti kita sambung lagi!” cetusnya tak puas. “Aku mau mengurusi orang peraih beasiswa ini dulu!”
Wajah pak Dedi tampak merah menahan marah. Aku ngeri beliau melampiaskan amarahnya kepadaku. Tapi itu tak terjadi. Ia berbalik dan mendesah. “Sungguh keterlaluan pak Ujang itu. Sungguh tidak sopan perlakuannya!” pak Dedi berusaha ramah. Ia ingin menetralisir suasana.
“ Ok baiklah, kita langsung mulai!!”
“Maafkan aku atas kejadian semalam, anak muda. Tapi tak usah khawatir ibu Shanti akan membawa kamu kembali ke mess dan membereskan semua persoalan dengan pak Ujang, ok?”
Ibu Shanti adalah sekretarisnya pak Dedi, yang berperawakn mungil. Wajahnya cukup manis, menggambarkan asli mojang priangan. Bersama ibu Shanti aku kembali menuju mess. Di jalan ibu Shanti tak banyak bicara. Ia berkonsentrasi menyetir mobilnya dengan sikap tubuh penuh tanggung jawab pada keselamatan penumpang. Di depan pintu rumah model Belanda itu, aku tak perlu memencet bel berkali-kali lagi. Di dalam, ibu Shanti menolak dipersilakan duduk. Aku berdiri di belakangnya.
“Aku tak punya waktu!” tegas Bu Shanti.
“Pak Ujang, dengar baik-baik. Sediakan akomodasi lengkap untuk mas ini.” Aku senang dalam hati.
“Bantu semua keperluannya dan registrasikan dia segera ke kampus!”
Pria berkumis itu terdiam di balik meja. Rasakan oleh mu kumis! Ucapku geram di dalam hati.
“ Hari ini juga! Dan semua yang kau kerjakan harus kau laporkan kepadaku paling lambat pukul empat. Kalau terjadi lagi seperti semalam, kau akan berurusan denganku!” pak Ujang beringsut-ingsut di kursinya.
“Paham?!” tegas bu Shanti.
4.Dago
Seminggu sudah aku tinggal di Bandung. Akupun punya teman sekamar bernama Wawan, orang nya lucu rambutnya keriting dan berperawakan sedikit tambun. Dalam waktu seminggu kami pun dekat seperti sahabat lama. Jika ada waktu luang, aku,Wawan dan juga Ade menghambur nongkrong di daerah Dago. Dago adalah kawasan nongkrongnya anak-anak muda di Bandung. Belum ke Bandung kalo belum pernah nongkrong di Dago. Setiap malam minggu pasti jalanan Dago akan macet di penuhi mobil-mobil gaulnya anak Bandung. Bermacam-macam kegiatan mereka, ada yang sekedar nongkrong bareng Gank nya sampai para pengamen dadakan yang membawa berbagai alat musik kreativitas mereka. Dan banyak juga para mahasiswa yang ikut mengamen untuk penggalangan dana acara kampus mereka masing-masing. Bandung adalah sebuah kota yang masih banyak sekali bangunan dan rumah-rumah bekas peningalan jaman Belanda.
Jalanan Dago adalah jalanan yang ditata artistik di seputarnya, membuktikan bahwa kaki lima tidak harus kumuh dan mengganggu. Tapi kami tak terlalu peduli pada semua itu, karena kami hanya tertuju pada beasiswa kami yang harus dipergunakan sebaik-baiknya. Wawan juga sama, berasal dari anak yang kurang mampu yang mendapatkan beasiswa penuh sama sepertiku.
Mess tempat kami tinggal terletak di Jl. Dayang Sumbi yang memang tidak begitu jauh dari Jl. Dago. Sedangakn mess putri yang Ade tempati berada di jalan Dipatiukur tidak jauh dari kampus kami. Sering sekali aku diajak Ade jalan-jalan untuk melihat kota Paris Van Java ini.
Minggu berikutnya aku mulai matrikulasi dan terjebak dalam rutinitas yang hanya berisi tiga macam kejadian: kuliah, nongkrong, dan belajar di mess masing-masing. Baru kali ini aku menemukan rutinitas yang tak membosankan, karena Bandung adalah gelimang pesona. Sering pulang kuliah kami mengambil jalur memutar untuk singgah di berbagai café dan tempat nongkrong lainnya.
Ekspreasi kreativitas anak Bandung sangat diumbar dari mulai menjamurnya café-café kaki lima, distro-distro, bahkan acara-acara musik yang selalu ada diakhir pekan. Kami bertiga tak pernah ketinggalan menonton acara-acara musik diakhir pekan.
Bandung, selalu memberi kejutan yang menyenangkan. Pulang kuliah sore ini kami iseng mengunjungi toko musik di kawasan Dago. Tiba-tiba Ade melonjak kegirangan karena album baru band favoritnya segera beredar, dan akan segera mengadakan launching album barunya di kawasan Dago.
Ade adalah wanita pencinta musik sejati. Kaset-kaset koleksinya sangat up to date. Hari demi hari pun kami lewati dengan saat-saat yang tak terlupakan.
5. Kampus
Meskipun kami bersaing tajam, tapi itu semua hanya secara akademik. Setelah pertempuran ilmiah habis-habisan, kami menghambur ke cafe mahasiswa yang berada di depan gedung kampus. Di sana kami semua bercanda laksana keluarga. Hari ini kami semua akan ditraktir oleh Randi seorang anak konglomerat dari salah satu pengusaha terkaya di Bandung, karena kesuksesan presentasi kelompoknya. Frengky dan Poltak dua orang mahasiswa yang berasal dari Medan sedang berebut memasukkan koin
juke box untuk memutar “Disco 2000” nya Pulp sebuah band asal British, lalu mereka berjingkrak kegirangan. Wawan hanya mengoyang-goyangkan kepala dan perutnya yang besar. Dan di sampingku duduklah seorang primadona kampus yang bernama Joey.
Joey Allen nama lengkapnya seorang peranakan Indo Belanda. Semua pria di kelasku termasuk aku pasti mau kalau diajak kawin lari sekarang juga. Ia jelita. Pesonanya adalah akumulasi dari sipu malunya jika digoda, cahaya matanya jika terkejut, kata-kata yang dipilihnya jika berbicara, dan buku-buku cerdas yang dibacanya. Kepiawaiannya memainkan piano membuat Joey semakin cantik bagiku. Apalagi gerak-geriknya yang mengatakan “I am very much available!” Masih lowong. Joey salah satu godaan terbesar di kampusku.
Setiap ada kesempatan, pria-pria di kampusku merubung Joey, berlomba-lomba membuatnya terkesan. Tapi, meski aku juga salah satu pengagum Joey, aku tak berani menebar pesona sedikit pun. Aku sadar diri, dari seluruh kemungkinan logis ketertarikan pria dan wanita secara fisik, materialistik, filosofik, idealisme, ekspektasi, kemistri, gengsi, atau apapun, tak secuil pun aku memenuhi kualifikasi Joey.
Randi Hermawan, si ganteng yang tajir berat itu adalah arjuna kelas kami sekaligus sang ketua kelas yang agak play boy. Jika Randi yang mendekati Joey, pesaing lain ciut nyalinya, menyingkir. Sebenarnya Randi adalah kekasih Sherly seorang cewe berparas manis yang mirip sekali dengan artis Andara Early. Namun panggilan jiwanya seorang kelinci tak akan membiarkan Joey berlalu begitu saja. Joey seorang wanita yang cerdas luar biasa tak bisa begitu saja bertekuk lutut dibuatnya. Randi yang secara materi dan fisik membuat para wanita di kampus kami mabuk kepayang, tapi hal ini tidak berlaku untuk Joey.
Randi tak sanggup menerima kenyataan ditolak dalam karier cintanya, baru kali ini dia bangkrut dalam usaha cintanya. Untuk membujuk dirinya sendiri, sekaligus melupakan kenyataan pahit bahwa kharisma Cassanovanya mulai hilang, sering Randi mentraktir minum Gank nya di café bar Dago atas yang memang tempatnya turis asing minum-minum di Bandung.
Pernah kami membopongnya pulang dari kampus, karena minum sampai mabuk di kantin kampus kami. Randi meracau, meratap-ratapkan lagu frustasi cinta. Sherly rupanya tahu kejadian sore itu. Di ambang pintu mobil Randi, Sharly melotot.
“Kenapa kau ini?! Enyahlah dari hadapanku!” cewe Menado itu naik pitam.
Sherly pun pergi meninggalkannya. Demikianlah kisah cinta sang Cassanova kampus kami, seorang filatelis cinta yang menganggap perempuan seperti perangko.
Joey masih seperti pulau kosong tak bertuan di tengah lautan, diperebutkan, tapi tak dapat dimiliki siapa pun. Dirayu-rayu ia tak mau, digombali ia tak peduli, diumpan ia tak mempan.
Perlombaan tuk mendapatkannya bukannya surut, malah semakin menjadi, bahkan tak jarang dijadikan bahan pertaruhan. Kini ia bagaikan hadiah lotere, bahkan mahasiswa dari fakultas lain pun banyak yang ikut berlomba.
Tapi tiba-tiba seisi kampus gempar, karena Joey dikabarkan telah menemukan pilihan hati nya.
“Oh..My God!! Siapakah gerangan pangeran yang beruntung itu??”. Teriakan Poltak mengisi ruangan kelasku.
“Pasti dia orang kaya turunan ninggrat berdarah biru..” teriakan wawan pun tak kalah kerasnya.
“Oke tenang begini cerita nya,” ucapku sambil bergaya bagaikan seorang profesor di depan kelas ku.
“Ketika aku sedang browsing untuk mencari materi tugas kemarin di perpustakaan, aku terbelalak sekali melihat sebuah e-mail dari Joey.” Ucapku sambil aku mengeluarkan secarik kertas hasil print out ku yang berisi:
Hi, there
If you want to date me, all you have to do is just…
Ask…
Joey
“Tak mungkin..tak masuk akal!! Sulit dipercaya!! Itu pasti orang iseng Van!” teriak Poltak dengan nada syirik.
“Terserah, kalau kau tak percaya!” kataku dengan nada yang sedikit sombong, walau pun dalam hati aku memikirkan omongan si Poltak itu. Tapi aku tetap ingin mempercayai bahwa isi email itu adalah asli.
Aku merasa ada sebuah gas helium yang tiba-tiba memompa dadaku, lalu aku melayang bagaikan balon gas, menyundul-nundul plafon kampusku. Selama ini aku hanya menonton semua pertandingan teman-temanku berebut Joey. Tapi sekonyong-konyong, tak ada angin tak ada hujan, ia mengatakan aku hanya tinggal meminta saja (just ask) jika ingin berkencan dengannya. Bagaikan durian runtuh! Wawan yang kupinta membacanya ber ulang-ulang di kantin sampai mengeluarkan air mata Karena memang si ibu kantin sedang mengiris bawang merah di dekat kami.
“Dunia sungguh tidak adil!” ujar Frengky yang masih tak percaya. Jangankan mereka aku sendiri masih tak percaya. Karena aku merasa tidak pernah sedikit pun mengikuti pertandingan mereka.
Tapi untuk lebih meyakinkan ku, maka kubalas email Joey, untuk mendapatkan konfirmasi bahwa memang benar-benar dialah pengirimnya.
Dear Joey,
apakah benar kamu tidak salah kirim e-mail?
mmm..gimana ya..
benarkah e-mail ini untukku?
Ternyata ia langsung menjawabnya.
Definitely, itu untuk kamu..
Sekarang aku benar-benar melayang dan seperti akan meledak. Apa yang dilihat Joey pada diriku? Aku curiga, sedikit rabun kah ia.
Sore ini tak seperti biasa nya aku pulang bersama wawan, tapi sore ini aku pulang sendiri karena akan mengantar Joey pulang terlebih dahulu.
Dua puluh menit enam detik, aku berdiri seperti orang stress, senewen menunggunya di depan gerbang gedung kampusku. Terlihat ia datang dari jauh menggunakan tank top berwarna merah dan jeans biru ngetatnya. Semakin dekat ia, semakin demam aku dibuatnya. Pertama ia terlalu cantik. Kedua aku tak tahu bagaimana cara memperlakukan teman sebagai pacar. Ketiga, aku harus memastikan dahulu matanya, kalau ia benar-benar tidak menderita rabun dekat agar ia tak salah orang.
“Apakah ini nyata?!” ucapku ketika ia tepat berada di depanku.
“It’s for real.” Katanya merdu sekali meyakinkanku.
Kami naik taxi menju ke rumah nya yang terletak di daerah Setia Budi. Duduk di sebelahnya, jantungku berdegup kencang seperti dentuman meriam yang ku buat untuk mengacaukan orang-orang di kampungku dulu saat kecil.
Aku ingin mengobrol banyak hal, tapi lidahku seperti tersangkut di tenggorokan kusendiri. Aku diam, duduk tegak, membeku. Sedangkan Joey tersenyum-senyum simpul melihat kekakuanku.
Beminggu-minggu aku berlatih agar bisa menguasi diri jika dekat dengan Joey. Setelah agak terlatih, diiringi tatapan iri teman-teman kampusku, secara rutin aku mengantarkan dia pulang, dan menemaninya menonton film-film terbaru di BIP 21. Kami menikmati daya tarik mengubah teman menjadi pacar, ternyata itu proses yang menyenangkan.
Waktu berlalu. Aku samakin mengagumi Joey. Tapi apakah aku mencintainya? Minggu lalu, Joey mengenalkanku dengan keluarganya. Ia mendekapku di rumahnya. Aku berdesir. Untuk pertama kalinya aku dipeluk soerang wanita bernuansa asmara. Aroma bau parfume dan keringat tubuhnya menusuk hidungku, merasuki jiwaku. Membuatku enggan tuk melepaskannya.
6.Bapak Ekonomi
Setiap hari, selalu ada saja hal baru yang kuperoleh dalam hidupku. Kini bangunan ilmu ekonomi yang telah lama teronggok dalam kepalaku, kurasakan berubah bentuknya, membesar, menggeliat, dan bertambah kapasitasnya.
Kini aku mengerti secara teoritis maksud dari John Maynard Keynes, sang master bagi kaum monetarist, dan mengapa pikirannya memerangi teory klasik yang fenomenal dari pak tua yang bernama Adam Smith. Sekarang aku memahami ekonomi sebagai science bahkan menjadikannya sebagai seni dan filosofi. Itu semua disebabkan karena dosen-dosen yang hebat di kampus ini.
Mereka mengajarkan dari sudut mana aku harus menyelusup dan mendaki gunung-gunung ilmu ekonomi tersebut. Sehingga aku dapat memetakan peluangku untuk menyumbangkan ilmuku apakah akan menjadi sebagai seorang pendidik, peneliti, konsultan, atau menjadi seorang pembuat kebijakan.
Perlahan tapi pasti aku bermetamorfosis menjadi penganut fanatik ekonomi klasik ajaran Adam Smith. Aku terpana membaca salinan pokok-pokok pikiran beliau yang sudah berusia hampir tiga ratus tahun lamanya.
John Adam Smith (lahir di Kirkcaldy, Skotlandia, 5 Juni 1723 – meninggal di Edinburgh, Skotlandia, 17 Juli 1790 pada umur 67 tahun), adalah seorang filsuf berkebangsaan Skotlandia yang menjadi pelopor ilmu ekonomi modern. Karyanya yang terkenal adalah buku An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations (disingkat The Wealth of Nations) adalah buku pertama yang menggambarkan sejarah perkembangan industri dan perdagangan di Eropa serta dasar-dasar perkembangan perdagangan bebas dan kapitalisme. Adam Smith adalah salah satu pelopor sistem ekonomi Kapitalisme. Sistem ekonomi ini muncul pada abad 18 di Eropa Barat dan pada abad 19 mulai terkenal disana.
Adam Smith dikenal luas dengan teori ekonomi “laissez-faire” yang mengumumkan perkumpulan di abad 18 Eropa. Smith percaya akan hak untuk mempengaruhi kemajuan ekonomi diri sendiri dengan bebas, tanpa dikendalikan oleh perkumpulan dan atau negara. Teori ini sampai pada proto-industrialisasi di Eropa, dan mengubah mayoritas kawasan Eropa menjadi daerah perdagangan bebas, membuat kemungkinan akan adanya pengusaha. Dia juga dikenal sebagai "Bapak Ekonomi".
Saking fanatiknya aku terhadap Adam Smith sampai-sampai aku pun bermimpi bertemu dengan beliau. Di dalam mimpi wajah beliau merah padam menahan marah. Matanya melotot seperti hendak keluar. Gagasan yang hebat dan kemarahan ilmiah yang terkunci dalam wajahnya. Ia memberi isyarat agar aku mendekat. Matanya bergerak ke kiri dan ke kanan, seperti takut akan ada yang mencuri dengar. Ia berbisik, emosional dan histeris.
“Apa kataku dulu? Benar, kan! Pengaruh uang tak ubahnya bisikan Iblis!” Tuan Smith menarik kerah bajuku.
“Semua itu gara-gara kaum monetarist brengsek itu!!”
Aku kebingungan,dan bertanya “mengapa?”
“Kau tahu?! Kaum monetarist bersekongkol mengumpulkan uang agar negeri sepert kalian dapat berutang, lalu pelan-pelan negerimu tergadai! Mereka itu bagaikan rentenir! Kolonial model baru! Penjajahan melalui ekonomi! Teori mereka? Pembangunan ekonomi berlandaskan moneter? Omong kosong sama sekali! Keynesians itu adalah turis dalam ilmu ekonomi, lebih cocok mereka dimasukan ke dalam sel! Semuanya hanya Uang! Lihat lah akibatnya pada pencuri-pencuri uang di negerimu itu!”
Aku pun mengangguk tanda setuju. Tuan smith semakin semangat dan menjadi.
“Proyek fisik! Lapangan kerja! Itulah solusi semua masalah!! Selain itu hanya omong kosong semata, hanya bualan. Sekarang lihatlah negerimu ini! Ditelikung dari luar, digerogoti dari dalam, sebentar lagi negerimu menuju kebangkrutan!!”
Mengerikan sekali aku mendengar penjelasan Tuan Adam Smith itu.
“Brakk..” tiba terdengar suara benda terjatuh. Akupun terbangun dari mimpi anehku semalam. Tak lama dari aku bermimpi seperti itu, tepat di awal tahun 1998 krisis ekonomi pun melanda negeri bangsa Indonesia kita yang tercinta ini. Sejak saat itu era Orde Baru pun terlihat kebusukannya.
Krisis finansial Asia yang menyebabkan ekonomi Indonesia melemah dan semakin besarnya ketidakpuasan masyarakat Indonesia terhadap pemerintahan pimpinan Soeharto saat itu menyebabkan terjadinya demonstrasi besar-besaran yang dilakukan berbagai organ aksi mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia.
Pemerintahan Soeharto semakin disorot setelah Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998 yang kemudian memicu Kerusuhan Mei 1998 sehari setelahnya. Gerakan mahasiswa pun meluas hampir diseluruh Indonesia. Di bawah tekanan yang besar dari dalam maupun luar negeri, Soeharto akhirnya memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya.
7. Sang Legenda
Beberapa hari ini aku tak enak hati, tanpa alas an yang jelas. Aku merasa seperti sesuatu yang buruk akan menimpaku. Ade sahabatku tak pernah lagi terlihat di kampus.
Hampir dua hari terakhir ini aku menunggu kabar darinya. Tapi tak kunjung terdengar juga beritanya. Tak pernah sebelumnya ia begini. Entah mengapa aku menjadi sangat mengkhawatirkan keadaannya. Aku pun berusaha mencari tahu lewat teman-teman kampusnya, tapi tak satu orang pun yang mengetahui keberadaannya. Aku sangat was-was tapi tak tahu harus mencari kemana.
Pagi-pagi sekali aku sudah terbangun dan bergegas untuk pergi ke kampus. Kuharap ia ada di perpustakaan seperti biasanya, sedang sibuk membaca buku-buku hukumnya yang super tebal. Tapi ia tak ada. Bahkan sampai kutanyakan ke dosennya, tak seorang pun tahu. Gelap. Ade raib seperti di telan bumi.
Aku pergi ke mess putri, berharap Ade sudah menunggu disana, mengejutkanku di depan pintu, sambil tertawa riang, menggodaku dengan jenaka, seperti biasanya. Namun, sesampainya aku disana, Ade tetap tak terlihat batang hidungnya. Sudah nyaris empat puluh delapan jam Ade hilang. Haruskah aku melapor pada pihak yang berwajib??
Ini sesuatu yang sangat serius bagiku. Karena bukan baru sekali kubaca di surat kabar berita penculikan seorang gadis muda oleh sebuah sindikat yang kemudian diperjualbelikan ke luar negeri. Atau tanpa sepengetahuanku Ade terlibat kegiatan tertentu disuatu organisasi mahasiswa yang mencoba untuk meruntuhkan Orde Baru yang memang sedang marak sekarang ini, sehingga ia diciduk dan dilenyapkan? Hatiku ngilu membayangkannya.
Bayang-bayang menyeramkan itu terus menyerbu pikiranku. Aku menghambur keluar dari mess tak tentu arah mau kemana. Aku menyusuri jalan Dipatiukur di bawah awan hitam yang menggelantung di langit hendak hujan. Tiba-tiba aneh sekali dari radio-radio kecil para penjaga kantin dekat kampusku, aku mendengar lagu yang sama. Semua radio membunnyikan lagu yang sama. “Mana mungkin?” ucap ku dalam hati. Kudengarkan dengan seksama lagu itu sampai selesai, semakin aneh. Lagu yang sama itu di ulang lagi. “Mustahil!” kataku dalam hati.
Mengapa semua radio memutarkan lagu yang sama? Aku berlari ketakutan. Apa yang terjadi padaku? Pada Ade? Kusimak lagi sayup syair yang berbisik dari jauh. Sekonyong-konyong akupun langsung teringat siapa pembawa lagu yang diputar serempak di semua setasiun radio tersebut. Akhirnya aku paham mengapa hari ini semua radio di Bandung memutarkan lagu yang sama.
Ratusan penggemar Nike Ardilla dari berbagai tempat dari belahan nusantara bersimbah air mata. Hari ini tanggal 19 maret 1998 tepat ketiga tahunnya Alm. Nike menghadap yang Kuasa. Mereka melakukan penghormatan pada sang legenda dengan caranya masing-masing.
Prosesi acara peringatan kematian Nike ini dimulai dari Bandung, setelah itu para penggemar menuju ke Imbanagara, Ciamis tempat keluarga Nike berada. Akhirnya aku tahu kenapa Ade dalam dua hari ini tak ada kabarnya, karena dia adalah salah satu fans fanatiknya Nike Ardilla. Aku terhanyut dalam kesedihan sekaligus takjub dangan kharisma almarhum.
8. Ide Gila
Ujian akhir semester telah usai, liburan semesterpun tiba. Aku dan seluruh teman sekelaspun menyambutnya dengan suka cita.
“Gila kalian!!” teriak Randy dan Poltak serentak mendengar ide gila aku dan wawan yang akan merencanakan pendakian ke gunung Slamet yang terkenal dengan keangkerannya.
“Kalian kan bukan anggota HIMAPA, mana mungkin kalian sanggup, mustahill!!” ucap Frengky. Yang lain hanya geleng-geleng komat-kamit, bergumam-gumam sambil menggelengkan kepala mendengar ide konyol kami.
“Sampai setengahnya pun tak kan berhasil kalian bisa daki.” Ucap Teti salah satu kutu buku di kelas meremehkan kami. Aku berkecil hati mendengar komentar teman-temanku yang sedikitpun tak ada yang mendukung. “Tak terbayangkan kesulitan yang akan menimpa kalian.” Pendapat Teti itu sangat benar. “Di gunung kalian bisa mati kelaparan kalau kalian sampai tersesat.” Frangky menyerocos lagi. “Ah, Aku pernah mendaki dua gunung sekaligus dulu!” Tiba-tiba Poltak angkat bicara dengan nada sedikit sombong.” Buktinya aku baik-baik saja, yang penting berani itu saja.” Ucapan Poltak membakar harga diri Frangky. “Maksudmu?? Kau ingin mengatakan aku tak berani!” ucap Frangky tersinggung.
“Maksudku, hanya orang-orang pemberanilah yang akan melakukannya.” Poltak pamer dan sengaja mengejek Frangky. Kalimatnya santai tapi menikam. “Jadi Kau bilang aku penakut?” ucap Frangky panas. “Aku juga dulu sering berkemah dibeberapa gunung, walaupun memang belum pernah sampai puncaknya, tapi akan kubuktikan kalau aku bisa, aku ikut dengan mu Van!” tegas Frangky melupakan nasehatnya yang tadi di berikan kepadaku.
“Sudahlah Frang, jangan kau ikuti kata-kata poltak dan ide gila si Ivan, mereka mememang sudah tidak waras.” ucap Teti menenangkan Frangky.
“Kau kira aku tak berani mengikuti ide gila ini? Aku juga ikut Van!” ucap Poltak tak kalah gertak. Begitulah tabiat orang Batak kalau harga dirinya mulai terancam. “Kalau begitu aku juga ikut lah.” Kata Randy yang memang sudah lama ingin mencoba merasakan alam liar.
Aku terperanjat mendengar itu semua. “Sahabat-sahabatku, apakah sudah kalian pikirkan matang-matang dangan ucapan kalian itu?” ucapku mencoba meyakinkan semua ucapan temanku yang sudah aku dengar. Dengan serempak mereka menjawab “Aku yakin!!”
Meledaklah suasana kelas akhirnya mereka semua mendukung kami. Wawan pun tersenyum sambil menunduk-nundukan badannya memberi hormat pada seisi kelas yang telah mendukung kami.
“Aku juga ikut!!” terdengar suara halus dari dekat pintu. Dan semua orang tak percaya itu suara Ade yang ternyata dari tadi dia mendengarkan perdebatan kami. “Aku ingin ikut pendakian itu juga..,” katanya sambil mengacungkan jari telunjuknya keatas.
“Maksudmu kau juga ingin ikut ide gila ini, De?” Tanya Randi. “Ya aku ikut, boleh kan?” ucap Ade tenang. Seluruh isi kelasku terdiam dan saling pandang melihat seorang gadis muda mencoba mengikuti ide gilaku.
Tak pakai pikiran! Nekat, lucu dan lugu. Namun serempak seisi kelasku bertepuk tangan heboh mendukung ide gilaku ini.
Sore ini jam di tanganku tepat menunjukan pukul 18.30 kami semua sudah berkumpul di depan kampus dengan backpack masing-masing. “Ade mana nih, kok belum datang juga sih?” Kata Wawan yang sudah tidak sabar ingin segera berangkat. “Sabar, namanya juga cewe pasti banyak sekali persiapannya.” Ucapku sedikit membela Ade. Dari kejauhan tampaklah Ade memakai jaket tebal dan sedikit membungkuk membawa bacpacknya. “Maaf teman-teman aku sedikit terlambat!” kata Ade sambil mengatur nafas nya yang masih megap-megap kecapean karena terburu-buru. “Oh ya kenalin ini kang Asep, De!” kataku memperkenalkan salah satu temanku. Kang Asep adalah salah satu anggota HIMAPA di kampus kami yang kami ajak untuk mengikuti ide gilaku. Kami sangat membutuhkan pengalamannya untuk membimbing kami dalam perjalanan nanti. Karena tak satupun dari kami yang berpengalaman.
“Baiklah teman-teman, pendakian ini menyuguhkan ragam rintangan dan variasi tantangan yang berbeda. Persahabatan, derita, luka, semangat, kesabaran, dan makna hidup memenuhi dimensi ruang dan waktu petualangan ini.” Ucap Kang Asep yang akan menjadi ketua rombongan kami nanti.
“Gunung Slamet yang mempunyai ketinggian 3.432 meter adalah gunung berapi yang terdapat di Pulau Jawa, Indonesia. Gunung ini berada di perbatasan Kabupaten Brebes, Banyumas, Purbalingga, dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah, dan merupakan yang tertinggi di Jawa Tengah serta kedua tertinggi di Pulau Jawa. Terdapat empat kawah di puncaknya yang semuanya aktif.” Kata Kang Asep memberi penjelasan. Kami semua mengangguk-angguk tanda mengerti. Setelah melakukan packing macam-macam pukul 19.00 kami berangkat. Kami baru sampai di terminal dan naik bis pukul 19.20. Penumpang dalam bis sedikit kesal menunggu karena kami baru naik dua puluh menit kemudian, sebab bis dijadwalkan berangkat pukul 19.00.
Aku duduk bersebalahan dengan Ade, Wawan dan Randy, Kang Asep dan Frangky, sedangakan Poltak bersebelahan dengan ibu-ibu tua yang sedang menggendong anak balitanya.
”Kenapa Joey gak diajak Van?” tanya Ade membuyarkan lamunanku.
”Oh dia lagi ikut Ayahnya ke Belanda, lagian mana mungkin Joey mau ikut petualangan yang bisa membuat badannya pegal-pegal kayak gini.” Kataku sambil membuka tutup botol minumanku.
”Emangnya Joey ga mau ya kalo harus berjalan kaki ke gunung seperti ini?” Tanya Ade membuatku ingin menceritakan apa yang terjadi.
”Ya sebenarnya memang banyak sekali perbedaan di antara kami, De!” ucap ku sambil menatap mata Ade.
”Loh contohnya?” Ade balik menatap mataku.
”Ya seperti ini, dia lebih suka jalan-jalan ke mall atau pergi dari cafe to cafe, sedangkan aku lebih suka bepetualang seperti ini. Dan perbedaan culture, cara pandang kita. Joey lebih ke barat-baratan dan aku hanyalah orang kampung yang sedang merantau di Bandung.” Kataku mencurahkan isi hatiku kepada Ade sahabatku. Ade terdiam. Tanpa terasa karena hari sudah mulai malam dan kami semua pun tertidur dengan pulas.
Kami sampai di Terminal Purwokerto tepat pukul 04.30 pagi. Tak lama kemudian kami semua pun terbangun karena suara kenek yang berteriak-teriak karena kita semua sudah sampai di Purwokerto.
Sesampainya kami di terminal, kami pun melaksanakan shalat subuh, sarapan, dan macam-macam. Di terminal kami bertemu dengan banyak pendaki yang akan naik ke Gunung Slamet juga.
Pukul setengah delapan kami sudah berjalan menuju Baturaden. Rupanya aku salah memilih supir angkot. Tampangnya terlihat seperti preman dan bertato. Tapi ternyata aku salah duga, karena ternyata orang itu sangar luarnya saja, padahal dalamnya sangat ramah. Namanya Mas Karyo asli orang Purwokerto. Di perjalanan Mas Karyo banyak bercerita tentang Gunung Selamet. Tapi ada satu cerita yang mengagetkan kami semua.
“Ati-ati loh mas-mas konon orang tuaku dulu bilang, tak akan pernah ada manusia yang bisa menginjak puncak gunung Slamet. Kalaupun bisa sampai ke puncak, orang itu dijamin tidak akan turun dengan selamat.” Ucap mas Karyo dengan muka yang sedikit ketakutan.
”Bulan lalu saja ada lima orang pendaki gunung selamet yang nyasar, satu orangnya hilang, belum ditemukan sampai sekarang mas!” teriak Mas Karyo terus nyerocos tak berhenti. Kami semua terdiam dan saling pandang mendengar cerita Mas Karyo.
Omongan Mas Karyo tidak sedikitpun menyurutkan semangat kami yang sudah bulat untuk bisa mencapai puncak. Karena kami semua yakin tak ada yang tak bisa di dunia ini.
”Eh ada yang mau gorengan bala-bala gak nih? Sisa sarapan tadi.” Suara Wawan tiba-tiba memecahkan lamunan kami.
”Aku mau satu dong!” Kata Ade sambil mengambil gorengan dari tangan Wawan.
”Uh dasar gembul..”ucap Poltak tak kalah cepat dengan Ade tangannya pun mengambil gorengan.
”Udah makan-makan aja!” Wawan membela diri.
Waktu sudah menunjukan pukul 14.00 WIB.
”Ya sudah nyampe di Baturaden Mas!” kata Mas Karyo. Kamipun memutuskan untuk turun dan berjalan ke start pendakian. Meski tidak terlalu jauh, namun jalannya menanjak. Bahkan ada rambu bertuliskan ”Oper Gigi Satu!” pertanda bahwa tanjakan curam.
”Pelan-pelan dong!! Licin nih jalannya..”kata Ade sambil meraih tanganku karena hampir terjatuh.
”Ya kang jangan terlalu cepat jalannya kasian Ade.” kataku mengingatkan Kang Asep.
”Jiah..yang di Bandung mau dikemanain nih?” Randy berteriak menggodaku.
”Maksud, kau??” teriakku sedikit kesal mendengar perkataan Randy.
”Udah-udah jangan pada bercanda terus, kita mulai memasuki alam bebas teman-teman, jadi aku harap kalian semua bisa menjaga ucapan kalian masing-masing ok!” Kata Kang Asep mengingatkan kita semua.
Tak lama, kami sampai di titik start pendakian. Titik start pendakian hanyalah sebuah pelataran di samping jalan aspal dan terdapat plang arah panah di sebuah pohon yang bertuliskan ”PUNCAK”. Tidak mau membuang waktu, kami segera memulai perjalanan.
”Tahan dulu teman!” Suara Kang Asep mengagetkan kita semua.
”Sebelum mendaki kita semua harus berdoa dahulu menurut kepercayaan masing-masing, berdoa mulai!” sambil menundukan kepala kami pun berdoa dalam hati.
Medan perjalanan dari start awal pendakian hingga Pos 1 sangat landai. Tipikal jalan di bumi perkemahan dengan pohon cemara di kanan kiri. Menjelang Pos 1 kami berjalan turun menuju sebuah kali kecil, diikuti dengan tanjakan setelah menyebrangi sungai tersebut. Dan sampailah kami di Pos 1.
Belum apa-apa, kami sudah dihadapkan dengan kejadian yang menyeramkan.
Bertepatan dengan datangnya kami di Pos 1, tiba-tiba ada seorang pendaki cewek dari Jepara yang sedang kesurupan. Kami semua pun langsung terdiam teringat ucapannya Mas Karyo. Tapi kejadian itu tak menurunkan semangat kami.
Bertepatan dengan datangnya kami di Pos 1, tiba-tiba ada seorang pendaki cewek dari Jepara yang sedang kesurupan. Kami semua pun langsung terdiam teringat ucapannya Mas Karyo. Tapi kejadian itu tak menurunkan semangat kami.
Perjalanan ke Pos 2 mulai tidak beres dengan tanjakan-tanjakan. Sesekali landai kemudian dihantam dengan tanjakan-tanjakan lagi. Aku yang kebagian menjadi sweeper bersama Poltak. Kami pun bejalan paling belakang sambil mengibaskan tongkat kayu untuk menyingkirkan semak dan ranting-ranting pohon yang menghalangi, sedangkan Kang Asep memimpin kami di barisan depan.
Setelah sekitar tiga jam perjalanan, rombongan sampai di Pos 2. Sebuah tanah lapang yang dijadikan Basecamp Latihan Gabungan SAR Se-Jawa Tengah. Tidak membuang waktu, aku , Frangky dan Wawan pergi mengambil air sebab sepanjang jalan menuju puncak disinilah tempat terakhir untuk mengambil air, sedangkan Poltak, Kang Asep dan Randy mendirikan tenda dan Ade mulai memasak untuk persiapan makan kami. Rombongan kami tak sendirian, ada juga rombongan dari Jakarta dan juga rombongan dari Jogjakarta . Kami pun saling bekenalan satu sama lainnya.
Tepat pukul tujuh malam tenda kami dan masakan pun jadi. “Ayo cowo-cowok, makanannya udah jadi nih..!” teriakan ade membuat kami langsung menyerbunya kerena perut kami sudah keroncongan semua.
Setelah santap malam kami pun berkumpul mengelilingi api unggun yang dibuat oleh kang Asep. Sambil ngobrol ngalor ngidul aku menyeruput secangkir jahe panas yang dibuat Ade.
“De, masakan mu enak juga.” Oceh Randy yang mulai sedikit tebar pesona. “Sukurlah kalau kalian suka.” Jawab Ade sambil meresletingkan jaketnya. “Rand , kau mau minum kopi gak?” terdengar tawaran Franky kepada Randy. “Boleh dong aku..” kata Poltak sambil membenarkan letak kupluknya yang sedikit kebesaran. “Ah..kalau kau bikinlah sendiri!” jawab Frangky ketus. “Jiah..si Randy saja, kau buatkan, aku yang memang minta tak pernah kau buatkan sekalipun Bah..” Poltak menyeringai dengan logat Bataknya. “Sudah-sudah mending kalian pada istirahat, soalnya pejalanan kita buat besok masih sangat jauh dan berat.” Kang Asep angkat bicara melihat kedua orang Medan itu mulai saling serang kembali.
Tak sengaja aku dan Ade beradu pandang. “Mmm..aneh kenapa aku merasa senang ya kalau berada di dekat Ade.” Gumamku dalam hati. Wajah Ade terlihat bak bulan purnama karena terkena pantulan cahaya api unggun. Ade pun tersenyum melihatku yang bengong melihatnya. “Kenapa Van, kok bengong sih? Inget Joey ya?” Aku pun panik dibuat nya.
“Ah gak kok De, cuman lagi menikmati suasana aja.” Akupun membalas senyuman Ade.
Tapi entah kenapa tiba-tiba cuaca menjadi tak karuan. Dingin menusuk, kabut menyergap, angin pun menerjang. Bayangan pepohonan di bibir hutan tropis laksana tentara yang sedang berbaris. Mendadak suasana menjadi hening, hanya terdengar bunyi nafas kami yang terdengar lirih.
Tak satu pun rombongan lain yang masih terbangun. Mungkin mereka sudah masuk ke alam mimpinya masing-masing. Tiba-tiba sebuah angin kencang menerjang kami. Bibir kami terasa terkunci sesaat setelah angin kencang lewat, menyeruaklah aroma bunga melati, kadang berganti wangi kenanga silih berganti. Padahal tak satupun dari kami yang membawa bunga ataupun pewangi. Merinding bulu kuduk kami semua, tak satupun dari kami yang angkat bicara. Ade yang kebetulan sedang di berada di dekatku langsung merapatkan tubuhnya ke lenganku.
Kami pun saling pandang dan dengan serentak kami pun pontang-panting masuk ke dalam tenda. Jantungku serasa mau meletus dag dig dug tak karuan. Senda gurau dan kekonyolan kami pun sirna tak tersisa. Kami berdoa membaca ayat-ayat suci sebisanya. Masih diliputi perasaan tak karuan, kami pun tertidur, berhimpit-himpitan satu sama lain.
Pagi-pagi sekali aku sudah terbangun. Ternyata tadi malam hujan deras sekali sehingga membuat tenda dan sekelilingnya basah. Terlihat Ade, Kang Asep dan Wawan sedang memasak buat kami sarapan nanti. Poltak dan Frangky seperti biasa sudah mulai berkoar-koar. Sedangakan Randy masih tampak terlelap di balik sleeping bag nya.
“Ayo teman-teman sarapan sudah siap nih!” Kang asep memanggil kami untuk sarapan. Aku menyeggol-nyenggol kaki Randy berniat untuk membangunkannya.
“ Hoaam..aku masih ngantuk Van!” sambil membalikan badannya Randy malah kembali tidur.
“Ran, bangun dong kita udah siap pada mau berangkat lagi nih, atau kau mau di sini sendiri?” kataku sambil beranjak keluar tenda.
“Wah..jangan dong!!” Randy pun panik lansung terbangun dan mengucek-ngucek matanya.
Kami sarapan dengan nasi, kornet dan telur dadar. Beres sarapan kami semua kembali membereskan tenda dan membersihkan sampah-sampah bekas kami kemarin. Sebelum memulai perjalanan Kang Asep memimpin kami untuk melakukan sedikit pemanasan.
Perjalanan dari pos dua ke pos tiga masih di dominasi dengan tanjakan-tanjakan, sangat sedikit sekali jalur datarnya. Sambil terus berjalan kami pun mengobrol, tapi tak ada satu pun dari kami yang membicarakan tentang kejadian semalam.
“Kalu ada yang sudah capek, ngomong aja ya jangan malu-malu.” Kata Kang Asep sambil membuka tutup botol minumnya.
“Pos tiganya masih jauh ya kang?” Tanya Randy dengan muka yang mulai memerah karena capek.
“Gak bentar lagi, tapi kalau mau istirahat boleh kok.” Ucap Kang Asep.
“Gak usah..nanggung kang.” Randy menjawab dengan napas yang memburu.
Dua jam sudah kami lewati. Kami pun sampai di pos tiga. Pos tiga cukup luas, bisa menampung dua tenda dome. Di pos tiga kami pun tidak terlalu lama, hanya sebentar kami duduk dan minum. Lalu kami pun mulai berangkat lagi menuju ke pos empat.
Perjalanan dari pos tiga menuju pos empat ini ternyata lebih sulit dari sebelumnya. Karena terdapat banyak sekali tanjakan yang lumayan curam. Ade terlihat sangat kelelahan keringatnya deras bercucuran membasahi kaos biru tanpa lengannya.
“kamu masih kuat De?” tanyaku sambil memegang badannya karena terlihat sedikit goyang.
“Gak tahu nih tiba-tiba pusing!” jawab Ade sambil memegangi kepalanya.
“Break..break!!” Spontan rombongan pun berhenti mendengar teriakan Wawan.
“Kenapa??” teriak Kang Asep dari depan.
“Sepertinya Ade kecapean.” Aku menjelaskan keadaan Ade.
“Oke kita break dulu teman-teman!” tegas Kang Asep sambil mendekati Ade. “Nih minum air gula dulu, biar cepat segeran! Kang Asep menyodorkan botol air minum nya. Ade pun mengambilnya dan langsung meminumnya.
Jangankan Ade, kami semua pun sebenarnya sudah sangat kecapekan karena kami tak pernah berjalan sejauh ini sebelumnya.
“Bah..hosh..hosh..masih jauh ya kang pos lima ? Tanya Frangky sambil mengatur napasnya yang megap-megap.
“Lumayan..gimana lanjut gak?” Kang Asep mulai mergukan tekad kami.
“Wah iya dong!! Sekali layar berkembang pantang menutup kembali.” Jawab kami serentak membacakan semboyan kelas kami.
“Kalau begitu, ayo atuh kita kemon!” ajak kang Asep.
“Lanjuuut..” Kami pun semngat kembali.
Sekarang giliran aku dan Wawan berada di depan memimpin barisan. Perjalanan kami pun semakin berat karena semak belukar yang tingginya setinggi dada orang dewasa mengahalangi jalur perjalanan kami. Aku dan Wawan pun menebas-nebaskan parang yang memang telah aku siapkan dari tadi. Setelah melewati beberapa rintangan yang cukup berat bagi kami. Akhirnya kami pun sampai di post empat.
Sesampainya di pos empat kami pun segera menyantap makan siang. Tidak terlalu berat yang penting bisa mengisi perut kami. Selesai makan kami pun beristirahat sebentar. Ade membaringkan tubuhnya diatas bagpacknya.
“Van..kalu ada yang ga kuat di perjalanan ini gimana?” tanyanya mengagetkan lamunanku.
“Kenapa emangnya? Kamu gak kuat De? Kalau memang ada yang ga kuat diantara kita, ngomong aja jangan dipaksakan.” Jawabku sambil menatap matanya.
“Gak kok aku gak apa-apa..” ucap Ade sambil tersenyum manis.
“Ayo teman-teman, kita mulai lanjut lagi!”